Wawasan Wiyatamandala,
itulah salah satu dari materi orientasi yang perlu semua calon siswa-siswi MAN
ketahui, mengapa?, karena ada istilah tak kenal maka tak sayang, tak sayang
maka tak cinta, oleh karenanya dengan Wawasan Wiyatamandala inilah supaya siswa
mengenal tentang apa, siapa, dimana, dan bagaimana lingkungan MAN itu. Apa MAN
itu,siapa kepala Madrasah-staf pengajar-staf karyawan, dimana letak keberadaan
MAN sukra itu dan bagaimana proses terjadinya MAN ko berada di sumuradem, deket
kuburan lagi, nah itulah yang akan kami bahas dalam materi Wawasan
Wiyatamandala.
Wawasan Wiyatamandal,
terdiri dari kata-kata, wawasan , mengandung arti “pandangan, penglihatan, tinjauan
atau tanggapan secara indrawi”, sedangkan kata wiyatamandala, terdiri dari dua
bagian kata, yaitu ”wiyata” yang berarti pelajaran atau pendidikan dan
“mandala” yang berarti bulatan,
lingkaran atau lingkungan ( kawasan ). Jadi wawasan Wiyatamandala
diartikan sebagai suatu pandangan atau tinjauan mengenai lingkungan
pendidikan/pengajaran.Untuk mempersempit ruang gerak dalam pembahasan wawasan
wiyatamandala, kami spesifikasikan MAN Sukra sebagai lingkungan pendidikan.
Kurang lebih Delapan belas ( 18 ) tahun, berdirilah
Madrasah Aliyah Negeri ( MAN ) Sukra Kabupaten Indramayu, tepatnya pada tanggal
25 November 1995. inipun tidak sekonyong-konyong / bim salabim ada kadabra di
bangun gedung atau langsung menerima siswa-siswi baru, tapi melelui proses.
Untuk itu mari kita telusuri jejak cerita atau sejarahnya.
Pada tahun 1987, ( kalian
sudah lahir belum ), ada yayasan Al-Ishlah yang tepatnya sebelah utara lapangan
bola/balai desa Sumuradem. Pada yayasan tersebut mengelola lembaga pendidikan
diantaranya; pondok pesantren, Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) Al-Ishlah, MTs swasta
Al-Ishlah dan Madrasah Aliyah ( MA ) Al-Ishlah, dengan ketua yayasan KH. Nur
amin Syafi’i.singkat cerita ada penawaran dari pemerintah ( Kementrian Agama ).
